Perempuan Berkebaya Nasional NTB 2026, Wali Kota Mataram : Kebaya Simbol Jati Diri Perempuan Indonesia yang Mencerminkan Kelembutan dan Keteguhan

Perempuan Berkebaya Nasional NTB 2026

Wali Kota Mataram : Kebaya Simbol Jati Diri Perempuan Indonesia yang Mencerminkan Kelembutan dan Keteguhan

Mataram – Wali Kota Mataram, H. Mohan Roliskana, menegaskan bahwa pelestarian kebaya bukan sekadar menjaga busana tradisional, melainkan juga merawat identitas dan warisan budaya bangsa yang sarat nilai sejarah. Menurutnya, kebaya merupakan simbol jati diri perempuan Indonesia yang mencerminkan kelembutan, keteguhan, dan kekayaan budaya yang harus terus dijaga serta diwariskan kepada generasi penerus. Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri Acara Perempuan Berkebaya Nasional NTB 2026, didampingi Ketua Dekranasda Kota Mataram, Hj. Kinnastri Mohan Roliskana, di Lapangan Sangkareang, pada Minggu (2/8/2026).

“Kebaya memiliki nilai filosofis yang sangat kuat. Di dalamnya terdapat nilai kelembutan dan keteguhan perempuan Indonesia yang memiliki sejarah panjang. Kebaya menjadi salah satu aset dan warisan budaya yang sangat berharga. Karena itu, mari kita jaga dan lestarikan kebaya sebagai bagian dari sejarah dan identitas bangsa,” ujar H. Mohan Roliskana yang disambut tepuk tangah seluruh hadirin.

Kegiatan ini dirangkaikan dengan tiga momentum penting, yakni Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia, Hari Kebaya Nasional, serta Hari Ulang Tahun (HUT) ke-33 Kota Mataram. Wali Kota Mataram pun menyambut baik penyelenggaraan kegiatan tersebut karena dinilai menjadi momentum yang tepat untuk memperkuat semangat kebangsaan, melestarikan budaya, serta mendorong peran perempuan dalam pembangunan.

“Alhamdulillah, hari ini kita dapat bersilaturahmi dalam momentum yang sangat istimewa. Kegiatan ini dirangkaikan dengan tiga peringatan penting, yaitu Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia, Hari Kebaya Nasional, dan Hari Ulang Tahun ke-33 Kota Mataram. Semoga semangat dari ketiga momentum ini semakin memperkuat kebersamaan kita untuk terus berkarya dan mengabdi bagi masyarakat,” pungkas Wali Kota Mataram

Sementara itu, Ketua Umum DPP Perempuan Indonesia Maju (PIM), Lana T. Koentjoro, menjelaskan bahwa organisasinya turut berperan dalam mengusulkan penetapan Hari Kebaya Nasional sekaligus mendorong pengakuan kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia oleh UNESCO.

“Alhamdulillah, kebaya kini telah resmi tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia UNESCO. Setelah pengakuan itu diperoleh, tugas kita belum selesai. Justru tanggung jawab kita semakin besar untuk melestarikannya, mengenalkannya kepada generasi muda, dan mempromosikannya hingga ke mancanegara sebagai identitas bangsa Indonesia,” ungkap Lana T. Koentjoro

Ia menambahkan bahwa pelestarian kebaya tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang luas. Di balik sehelai kebaya terdapat mata rantai ekonomi yang melibatkan para perajin tenun, batik, songket, bordir, pembuat aksesori, hingga pelaku UMKM di berbagai daerah.

“Ketika kita memakai dan melestarikan kebaya, sesungguhnya kita juga menghidupkan ekonomi masyarakat. Ada para pengrajin kain, pembuat bros, penjahit, hingga pelaku UMKM yang ikut bergerak. Karena itu, pelestarian budaya harus berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi perempuan,” jelasnya.

Selain bergerak di bidang pelestarian budaya, PIM juga terus menjalankan berbagai program pemberdayaan perempuan di bidang kesehatan, pendidikan, sosial, dan ekonomi. Salah satu program yang tengah dikembangkan adalah Gerakan Nasional Transformasi Perempuan Indonesia yang mengusung strategi transformasi holistik berbasis komunitas dan teknologi guna mencetak sumber daya manusia unggul serta memperkuat kemandirian ekonomi perempuan.

Pada kesempatan tersebut, delapan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PIM di Provinsi Nusa Tenggara Barat resmi dilantik, yaitu Kota Mataram, Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Lombok Tengah, Kabupaten Lombok Utara, Kabupaten Sumbawa, Kabupaten Sumbawa Barat, dan Kabupaten Dompu.

“Saat ini, Perempuan Indonesia Maju telah terbentuk di 27 provinsi dengan puluhan kepengurusan di tingkat kabupaten dan kota. Kami juga telah memiliki jaringan organisasi di sejumlah negara, di antaranya Hong Kong, Korea Selatan, Amerika Serikat, Prancis, dan Australia. Dengan dilantiknya delapan DPC di Provinsi Nusa Tenggara Barat, kami berharap peran organisasi ini semakin luas dalam meningkatkan kapasitas, kemandirian, serta kontribusi perempuan bagi pembangunan bangsa,” tutup Lana T. Koentjoro.

Share your love

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter