Book Appointment Now

Malam Ketika Mataram Menjadi Rumah Semua Orang

Malam Ketika Mataram Menjadi Rumah Semua Orang
MATARAM — Malam itu, Lapangan Sangkareang bukan sekadar tempat ribuan orang berkumpul. Ia menjelma menjadi sebuah rumah. Di sana, perbedaan tidak dipertontonkan sebagai jarak. Ia hadir sebagai warna. Orang-orang dari latar belakang yang berbeda duduk berdampingan, tertawa bersama, bernyanyi dalam nada yang sama. Tak ada yang sibuk bertanya siapa datang dari mana. Sebab malam itu, semua datang membawa satu alasan yang sama: merayakan rumah yang mereka cintai—Kota Mataram.

Di bawah langit Mataram, Jumat (4/9/2026) malam, perayaan HUT ke-33 Kota Mataram menemukan maknanya sendiri. Bahwa merawat kota tidak semata-mata tentang membangun jalan, mempercantik taman, mendirikan gedung, atau mengejar angka-angka pembangunan. Merawat kota adalah memastikan setiap orang punya ruang untuk merasa diterima.Dihargai. Dan yang paling penting, memiliki harapan.
Malam hiburan rakyat itu menjadi cermin kecil tentang bagaimana Mataram tumbuh: bukan dari satu warna, bukan dari satu budaya, dan bukan dari satu kelompok. Melainkan dari banyak orang yang memilih hidup berdampingan.
Wali Kota Mataram, H. Mohan Roliskana, bersama Ketua TP PKK Kota Mataram, Hj. Kinnastri Mohan Roliskana, memilih berada di tengah-tengah warga. Tak ada jarak antara panggung dan penonton. Tak ada sekat antara pejabat dan masyarakat. Keduanya menyapa warga, menyaksikan pertunjukan, dan menikmati malam perayaan bersama masyarakat yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan kota.
Lalu panggung perlahan menyala.

Permainan cahaya membuka pertunjukan. Video karya Diskominfo Kota Mataram membawa penonton menyusuri kembali perjalanan kota, disusul video resmi HUT ke-33 dan kilas balik para Wali Kota yang pernah memimpin Mataram.
Sejenak, sejarah seperti dipanggil kembali. Mengingatkan bahwa sebuah kota tidak pernah lahir dalam satu malam.Ia dibangun oleh waktu. Oleh kebijakan. Oleh kerja keras. Dan oleh jejak panjang banyak tangan yang datang silih berganti.
Sejarah hadir sebelum pesta benar-benar dimulai.
Pelita Groove kemudian mengambil alih panggung. Enam tembang dimainkan dan membuat Sangkareang semakin hidup. Salah satunya, Jingga Kota, terasa begitu dekat dengan denyut Mataram.
Lagu itu seperti mengajak penonton membayangkan seorang anak muda mengayuh sepeda dari Ampenan menuju Cakranegara, menyusuri jalan-jalan kota dalam cahaya sore.
Tentang Mataram yang sederhana. Tentang Mataram yang akrab. Tentang sebuah kota yang diam-diam menyimpan begitu banyak cerita. Malam itu, Mataram seperti sedang bercerita tentang dirinya sendiri.

Kemudian kejutan datang. Ratusan ASN Kota Mataram tiba-tiba menyeruak ke tengah panggung. Mereka membentuk angka 33 dan menari Tabola Bale. Tepuk tangan pecah.
Wajah-wajah yang sehari-hari berada di balik meja pelayanan berubah menjadi bagian dari pesta rakyat. Malam itu, mereka tidak sedang menjadi birokrat. Mereka sedang menjadi warga.
Lalu keberagaman bergerak menjadi pertunjukan.
Sanggar Adeva Devayoni membawa penonton berjalan melintasi Nusantara. Tari Saman Aceh, ondel-ondel Betawi, Kecak Bali, hingga gerak Bugis mengalir bersama irama Hembusan Angin Mamiri.

Panggung Sangkareang seperti berubah menjadi miniatur Indonesia. Namun ada satu momen yang membuat suasana seketika terasa berbeda.
Seorang penari melantunkan tembang magis Suku Mamuna Papua tentang manusia yang terus berjalan, tentang bumi yang dicintai, dan tentang masa depan yang perlahan mendekat.
Hari demi hari manusia terus melangkah. Kaki berpijak di bumi yang sama. Dan pada akhirnya, setiap perjalanan akan bermuara pada satu pertanyaan sederhana: masihkah bumi ini menjadi rumah bagi kita semua? Malam itu, jawabannya terasa begitu jelas : YA. Selama manusia memilih untuk saling menjaga.

Tari Peresaan, kekayaan budaya Sasak yang hadir melalui tari kontemporer, kemudian membawa suasana kembali pada akar budaya Mataram.
Disusul Amtenar dengan lagu Mataram. Dan ketika ratusan anak-anak muncul ke panggung, sesuatu yang lebih indah terjadi. Mereka mengajak Wali Kota Mataram bersama Ibu Wali Kota ikut menari. Tak ada lagi pejabat dan warga. Tak ada lagi panggung dan penonton. Yang ada hanya manusia yang sedang bergembira di rumahnya sendiri.
Kemudian Rumah Kita mengalun.
Batas antara panggung dan penonton benar-benar hilang. Wali Kota dan Ibu Wali Kota, bersama para Kepala OPD yang dipimpin Sekda Kota Mataram, HL. Alwan Basri, bernyanyi dalam satu suara bersama warga. Malam itu, semua suara seperti menemukan tempat yang sama.

Mataram.
Ketika kembang api akhirnya meledak di langit Sangkareang, ribuan mata menengadah. Cahaya berpendar di atas kota yang sedang merayakan usianya. Namun di balik kemeriahan itu, ada pesan yang jauh lebih sederhana:
33 tahun adalah perjalanan. Tetapi harapan harus terus dinyalakan. Mataram sedang merayakan ulang tahunnya. Tetapi sesungguhnya, malam itu Mataram sedang merayakan orang-orang yang memilih untuk merawatnya.
“Yang paling penting adalah kota ini tetap tumbuh dan masyarakatnya juga ikut berkembang. Kita berharap Kota Mataram senantiasa mampu memenuhi harapan setiap warga yang tinggal di sini,” ujar Mohan.

Ia menegaskan komitmen pemerintah untuk menghadirkan pelayanan terbaik sekaligus ruang yang aman, ramah, dan membahagiakan bagi siapa pun yang hidup dan berkarya di Mataram.
Sebab sebuah kota yang baik bukan hanya kota yang dibangun dengan cepat. Tetapi kota yang membuat warganya merasa aman untuk tinggal, nyaman untuk hidup, dan memiliki alasan untuk berharap.
Di tengah kerumunan, Puspita, salah seorang penonton, menyimpan kesan yang mungkin justru menjadi inti dari seluruh perayaan malam itu.
“Saya bahagia dan terharu menyaksikan indahnya keberagaman di Kota Mataram yang begitu harmonis. Semua pihak bahu-membahu merawat kota ini. Itu meyakinkan saya bahwa kota ini layak untuk kita tinggali. Mataram, aku mencintaimu,” tuturnya di samping sang suami sambil menggendong balitanya.

Kalimat itu sederhana. Tetapi mungkin justru di situlah makna sebuah kota menemukan rumahnya.
Bukan pada beton. Bukan pada aspal. Bukan pula pada gedung-gedung yang menjulang. Melainkan pada perasaan ketika seseorang berkata: “Di sini, saya diterima.”
Sebuah kota dibangun dari rasa memiliki. Dari keberagaman yang dirawat. Dari tangan-tangan yang saling menggenggam. Dari anak-anak yang tumbuh dengan keyakinan bahwa masa depan mereka layak diperjuangkan.Dan dari orang-orang yang, meski datang dari tempat yang berbeda, akhirnya menemukan tempat yang sama untuk menyebutnya sebagai rumah.

Sebab pada akhirnya, kota bukan hanya tentang siapa yang tinggal di dalamnya. Kota adalah tentang siapa yang merasa pulang di dalamnya. Dan malam itu, di Lapangan Sangkareang, Mataram membuktikan satu hal: Mataram bukan sekadar tempat untuk tinggal. Mataram adalah rumah semua orang. Rumah yang terus dirawat. Rumah yang terus tumbuh. Dan rumah tempat harapan selalu punya alasan untuk menyala.*(TK-DISKOMINFO)*



