Dibawah Naungan Merah Putih Yang Berkibar di Langit Mataram, Lantunan Doa untuk NTT dipanjatkan

Dibawah Naungan Merah Putih Yang Berkibar di Langit Mataram,

Lantunan Doa untuk NTT dipanjatkan.

MATARAM— Merah Putih berkibar di Lapangan Sangkareang, Kota Mataram, . Barisan upacara berdiri tegak. Lagu Indonesia Raya mengalun. Namun, di tengah khidmat peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, yang dipimpin oleh Wali Kota Mataram, H. Mohan Roliskana, yang bertindak sebagai Inspektur upacara, dan diikuti jajaran ASN Pemerintah Kota Mataram, unsur Forkopimda, serta berbagai elemen masyarakat, hembusan udara Senin (17/8/26)  terasa begitu berat karena ada duka yang terasa begitu dekat: gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur.

Di tanah yang berbeda, saudara sebangsa sedang menghadapi kehilangan.

Peringatan kemerdekaan tahun ini tidak sekadar menjadi seremoni. Ia menjadi ruang untuk kembali mengingat bahwa Indonesia dibangun bukan hanya oleh perjuangan para pahlawan, tetapi juga oleh rasa persaudaraan yang membuat kita tetap berdiri bersama ketika sebagian dari kita sedang jatuh.

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, beberapa hari menjelang peringatan kemerdekaan. Bencana tersebut menimbulkan korban jiwa, kerusakan bangunan, dan memaksa warga mengungsi.

Kabar itu datang di tengah persiapan masyarakat menyambut 17 Agustus.

Di Mataram, bendera dinaikkan dengan penuh hormat. Di NTT, sebagian saudara kita mungkin masih berada di tempat pengungsian, memeluk anak-anak mereka, menunggu bantuan, atau mencoba menyusun kembali hidup yang porak-poranda.

Jarak memang terbentang laut.

Tetapi duka tidak mengenal jarak.

Sebab Indonesia bukan sekadar gugusan pulau yang dipisahkan laut. Indonesia adalah rasa.

Lantunan doa yang berkumandang di Sangkareang, mengajak seluruh masyarakat memaknai kemerdekaan sebagai momentum memperkuat kepedulian dan gotong royong. Semangat kemerdekaan, harus diwujudkan dengan menghadirkan rasa kemanusiaan bagi sesama anak bangsa.

“Di tengah kita memperingati kemerdekaan, mari kita ingat saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur yang sedang menghadapi musibah. Mari kita kirimkan doa dan dukungan. Kita adalah satu Indonesia.”

Kalimat itu seperti menemukan tempatnya sendiri di antara derap langkah pasukan dan kibaran Sang Saka.

 Sebab kemerdekaan tidak berhenti pada upacara. Ia hidup dalam keberanian untuk peduli. Dalam kesediaan menolong.

 Dalam doa yang dikirimkan kepada mereka yang bahkan mungkin tidak pernah kita kenal.

Pagi itu, Mataram merayakan 81 tahun Indonesia merdeka dengan kepala tegak, tetapi hati yang menunduk.

Menunduk untuk mereka yang kehilangan.

Menunduk untuk keluarga yang sedang mencari kekuatan.

Menunduk untuk saudara-saudara di NTT yang sedang berjuang melewati hari-hari sulit setelah gempa.

Merah Putih berkibar di Sangkareang.

Dan dari bawah kibaran itu, sebuah pesan sederhana mengalir: Indonesia tidak boleh membiarkan siapa pun merasa sendirian.

Sebab kita mungkin tinggal di pulau yang berbeda, berbicara dengan bahasa yang berbeda, dan menjalani hidup dengan cara yang berbeda.

Tetapi ketika bencana datang, kita adalah satu keluarga.

Dari Mataram, doa itu menuju NTT.

Semoga yang pergi mendapat tempat terbaik. Yang kehilangan diberi ketabahan.

Yang terluka segera dipulihkan.

Dan mereka yang masih bertahan diberi kekuatan untuk bangkit.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.

Merdeka adalah ketika kita tetap bersama, dalam suka, terlebih dalam duka.**(TK-DISKOMINFO)

Share your love

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter