Book Appointment Now

Belajar Kepemimpinan dari Kota Mataram: Ketika Pelayanan Publik Menjadi Kekuatan Daya Saing Investasi, Walikota Mataram raih 2 trophy dari IPSEA 2026

Belajar Kepemimpinan dari Kota Mataram: Ketika Pelayanan Publik Menjadi Kekuatan Daya Saing Investasi, Walikota Mataram raih 2 trophy dari IPSEA 2026
Mataram — Dalam pembangunan sebuah kota, penghargaan bukanlah tujuan akhir. Penghargaan hanya menjadi penanda bahwa sebuah proses sedang berjalan ke arah yang benar. Ukuran sesungguhnya terletak pada sejauh mana masyarakat merasakan perubahan: pelayanan yang semakin mudah, birokrasi yang semakin sederhana, pemerintah yang hadir memberi kepastian, dan ruang usaha yang semakin kondusif. Dari sanalah kepercayaan publik tumbuh. Dan dalam pembangunan modern, kepercayaan adalah modal yang sama berharganya dengan infrastruktur maupun investasi.

Pesan itu mengemuka ketika Wali Kota Mataram, H. Mohan Roliskana, menerima Indonesian Public Service Excellence Award (IPSEA) 2026 yang diselenggarakan Seven Media Asia di Platinum Hotel Jimbaran Beach, Bali, Jumat (17/7/2026). Pada ajang tersebut, H. Mohan Roliskana meraih dua penghargaan sekaligus, yakni Best Regional Leader for Public Service Excellence, Creative Finance, and Cultural Advancement serta Excellence in Creative Fiscal Management, Cultural Advancement, and Integrated Public Service.
Penghargaan tersebut bukan diberikan karena satu program yang populer atau satu inovasi yang viral. Dewan juri melakukan penilaian secara menyeluruh melalui rekam jejak kepemimpinan, inovasi pelayanan publik, transformasi digital, pengelolaan fiskal, pemberitaan media massa, hingga persepsi masyarakat terhadap kualitas pelayanan pemerintah daerah.
Dalam keterangan resminya, Seven Media Asia menyebutkan bahwa IPSEA dirancang sebagai bentuk apresiasi kepada kepala daerah yang mampu membangun pelayanan publik secara berkelanjutan melalui kepemimpinan yang visioner, birokrasi yang adaptif, dan inovasi yang berdampak nyata.

“Pelayanan publik merupakan wajah utama sebuah pemerintahan. Karena itu, penghargaan ini diberikan kepada para pemimpin daerah yang mampu menunjukkan kepemimpinan yang visioner, membangun birokrasi yang adaptif, memperkuat inovasi pelayanan, serta menghadirkan dampak yang benar-benar dirasakan masyarakat. Penghargaan ini bukan hanya tentang capaian hari ini, tetapi juga konsistensi dalam membangun kepercayaan publik,” tulis Seven Media Asia dalam rilis resminya.
Dari seluruh kepala daerah di Indonesia, hanya 25 pemimpin daerah yang dinilai memenuhi indikator untuk menerima penghargaan tersebut. Bagi penyelenggara, kepala daerah yang layak memperoleh IPSEA bukan hanya mereka yang mampu menjalankan roda pemerintahan, tetapi juga mampu membangun ekosistem pelayanan publik yang inovatif, kolaboratif, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.
Bagi Kota Mataram, penghargaan ini memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar prestise. Pengakuan tersebut menjadi indikator bahwa reformasi birokrasi yang dijalankan selama beberapa tahun terakhir mulai menunjukkan hasil. Pelayanan publik yang lebih cepat, sederhana, transparan, dan berbasis digital tidak hanya memberikan kemudahan bagi masyarakat, tetapi juga membangun kredibilitas pemerintah daerah.
Dalam perspektif pembangunan ekonomi, kualitas pelayanan publik merupakan salah satu fondasi utama daya saing investasi. Investor tidak hanya mempertimbangkan potensi pasar, tetapi juga melihat seberapa mudah memperoleh perizinan, seberapa cepat proses administrasi berjalan, dan seberapa konsisten pemerintah memberikan kepastian hukum. Birokrasi yang efisien akan menurunkan biaya transaksi, mempercepat realisasi investasi, dan meningkatkan kepercayaan dunia usaha.

Karena itu, penghargaan IPSEA 2026 dapat menjadi sinyal positif bagi iklim investasi Kota Mataram. Tata kelola pemerintahan yang dinilai baik memberikan keyakinan bahwa daerah memiliki kapasitas untuk menciptakan lingkungan usaha yang sehat, akuntabel, dan berkelanjutan.
Penguatan tersebut juga terlihat dari strategi creative financing yang diterapkan Pemerintah Kota Mataram. Di tengah keterbatasan fiskal, pembangunan tetap berjalan melalui pola pembiayaan yang inovatif dan kolaboratif. Kemampuan menjaga kesehatan fiskal daerah menjadi indikator penting bahwa pembangunan memiliki arah yang jelas sekaligus memberikan kepastian bagi investor yang membutuhkan stabilitas kebijakan dalam jangka panjang.
Namun, pembangunan Kota Mataram tidak hanya bertumpu pada aspek ekonomi. Pemerintah juga menempatkan kebudayaan sebagai bagian dari strategi pembangunan daerah. Pelestarian budaya lokal, pengembangan ekonomi kreatif, serta penyediaan ruang publik berbasis kearifan lokal menjadi upaya menjaga identitas kota di tengah laju modernisasi. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan tidak semata mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga karakter dan kualitas hidup masyarakat.

Di sektor pelayanan dasar, peningkatan kualitas layanan kesehatan melalui RSUD Kota Mataram turut memperkuat citra tata kelola pemerintahan. Keberhasilan rumah sakit daerah meningkatkan mutu pelayanan, keselamatan pasien, dan tata kelola yang profesional mengantarkan H. Mohan Roliskana meraih predikat Top Pembina RSUD 2026.
Menerima penghargaan tersebut, Mohan Roliskana menegaskan bahwa capaian itu merupakan hasil kerja bersama seluruh aparatur Pemerintah Kota Mataram dan masyarakat.
“Saya meyakini bahwa jabatan hanyalah amanah, sementara pelayanan adalah tanggung jawab moral. Penghargaan ini bukan garis akhir, tetapi pengingat bahwa setiap keputusan pemerintah harus selalu bermuara pada kemudahan hidup masyarakat. Jika warga merasa lebih mudah mengurus kebutuhannya, lebih cepat mendapatkan pelayanan, dan lebih percaya kepada pemerintah, maka di situlah sesungguhnya keberhasilan itu berada,” ujarnya.
Pada akhirnya, pelayanan publik yang berkualitas bukan hanya menghasilkan kepuasan warga. Ia juga melahirkan kepercayaan, memperkuat reputasi daerah, membuka peluang investasi, menciptakan lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Di era ketika daerah saling berkompetisi menarik modal dan talenta, kualitas birokrasi menjadi salah satu ukuran utama daya saing.

“Kami ingin membangun birokrasi yang bukan hanya profesional, tetapi juga memiliki hati. Sebab masyarakat tidak selalu mengingat seberapa hebat sebuah program, tetapi mereka akan selalu mengingat bagaimana pemerintah memperlakukan mereka,” pungkasnya.
Dari Mataram, pesan itu kembali ditegaskan. Pembangunan yang berkelanjutan selalu dimulai dari pemerintahan yang mampu melayani dengan baik. Ketika pelayanan publik menjadi budaya kerja, kepercayaan akan tumbuh. Ketika kepercayaan tumbuh, investasi akan datang. Dan ketika investasi berkembang, kesejahteraan masyarakat memiliki ruang yang lebih besar untuk diwujudkan. Itulah makna yang melampaui sebuah penghargaan: pelayanan publik sebagai fondasi kemajuan kota dan masa depan daerah.**(TK-DISKOMINFO)



