Book Appointment Now

Kota Bukan Hanya Soal Tempat Hidup: Mataram Kini Menyiapkan Tempat untuk Warganya Berpulang

Kota Bukan Hanya Soal Tempat Hidup: Mataram Kini Menyiapkan Tempat untuk Warganya Berpulang
MATARAM — Sebuah kota biasanya sibuk menghitung apa yang bisa dibangun: berapa kilometer jalan yang selesai, berapa jembatan yang berdiri, berapa sekolah yang diperbaiki, dan berapa ruang publik yang bisa dinikmati warganya.

Tapi ada satu kebutuhan yang jarang masuk dalam percakapan pembangunan: ke mana warga akan pergi ketika hidupnya selesai?
Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Bahkan getir. Namun bagi Kota Mataram, persoalan itu nyata. Lahan pemakaman semakin terbatas. Sejumlah TPU mulai penuh. Di tengah kota yang terus tumbuh dan ruang yang semakin sempit, kematian pun membutuhkan tempat.
Karena itu, di momentum HUT ke-33 Kota Mataram, Pemerintah Kota Mataram memilih menghadirkan sesuatu yang mungkin tidak sepopuler jalan baru atau gedung baru : sebuah tempat untuk berpulang.
Wali Kota Mataram H. Mohan Roliskana meresmikan Tempat Pemakaman Umum (TPU) baru seluas sekitar 1,5 hektare. Peresmian ini menjadi bagian dari rangkaian perayaan HUT ke-33 Kota Mataram yang mengusung tema “Merawat Kota, Menumbuhkan Harapan.”

Bagi Orang nomor satu di Kota Mataram ini, pembangunan kota tidak boleh berhenti pada urusan ketika manusia masih menjalani kehidupan. Pemerintah juga memiliki tanggung jawab memastikan warganya memperoleh tempat yang layak pada fase terakhir perjalanan mereka.
“Kita tidak hanya berbicara soal infrastruktur, jalan, jembatan, fasilitas kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan ruang terbuka publik. Tetapi kadang-kadang satu hal yang luput bagi kita semua adalah penyediaan tempat pemakaman umum,” ujarnya.
Kalimat itu seperti mengingatkan bahwa pembangunan memiliki wajah yang lebih luas dari sekadar beton dan angka.
Ada kebutuhan manusia yang tidak selalu terlihat, tetapi akan selalu datang.
Pria gagah berkacamata ini mengatakan, TPU merupakan bagian dari fase terakhir perjalanan manusia. Karena itu, penyediaannya harus menjadi bagian dari kehadiran pemerintah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

“Pemakaman umum ini menjadi bagian dari fase terakhir perjalanan kita sebagai manusia. Oleh karena itu, semangat dan visi kita sebagai pemerintah adalah menyediakan tempat peristirahatan terakhir bagi warga masyarakat Kota Mataram,” ujarnya dalam kegiatan peresmian yang juga dihadiri oleh Wakil Wali kota, TGH Mujiburrahman, Sekda Kota Mataram, HL. Alwan Basri, Ketua TP PKK Kota Mataram, Hj. Kinnastri Mohan Roliskana, Ketua GOW Kota Mataram, Hj. Waridah Mujiburrahman, Ketua DWP Kota Mataram, Hj.Lale rasminingsih, Forkopimda Kota Mataram, Kepala OPD, Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat.
Pilihan menghadirkan TPU baru juga bukan tanpa alasan. Persoalan keterbatasan lahan pemakaman di Mataram sudah semakin terasa. Salah satunya terjadi di TPU Karang Medain yang kondisinya telah penuh.
Lahan 1,5 hektare tersebut kemudian menjadi salah satu jalan keluar yang diproyeksikan mampu melayani kebutuhan masyarakat dalam jangka panjang.
Namun Pemerintah Kota Mataram tidak ingin pemakaman hanya menjadi ruang yang identik dengan kesunyian dan kesan menyeramkan. TPU ini diarahkan dengan konsep pemakaman modern, yang tetap tertata sekaligus dapat menjadi bagian dari ruang terbuka kota.

“Pemakaman tidak lagi berkesan angker, tidak lagi seram. Tempat ini juga bisa menjadi bagian dari ruang terbuka yang kita miliki,” terangnya kembali.
Pemerintah secara bertahap akan melengkapi kawasan tersebut dengan sejumlah fasilitas pendukung, seperti tempat berteduh, fasilitas kebersihan, sound system, hingga rencana penyediaan mobil jenazah untuk membantu masyarakat mengantarkan jenazah menuju tempat peristirahatan terakhir.
Ikhtiar memperluas ruang pemakaman juga dilakukan di sejumlah wilayah lain. Pemerintah Kota Mataram telah mendukung rehabilitasi dan perluasan pemakaman di Babakan, Bertais, Gomong, dan Selagalas. Sementara TPU di Pandan Salas seluas sekitar 23 are juga akan diresmikan, berasal dari hibah H. Farid Amir.
Di balik hadirnya lahan pemakaman itu, terdapat cerita tentang gotong royong. Ada pemerintah, BPN, notaris, camat, lurah, perangkat daerah, anggota dewan, kepala lingkungan, dan tokoh masyarakat yang bersama-sama mengawal proses panjang hingga fasilitas tersebut terwujud.
Wali Kota menyampaikan penghargaan kepada seluruh pihak yang telah membantu.
“Ada kepedulian besar dari orang-orang yang mau mewakafkan, mau memberikan kontribusi terhadap pemerintah. Sehingga urusan-urusan yang sangat mendasar, alhamdulillah, bisa kita selesaikan satu persatu,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kota Mataram, Muhamad Nazaruddin Fikri, mengatakan bahwa pembangunan TPU Harum ini merupakan arahan dan perintah langsung dari Wali Kota Mataram, mengingat kebutuhan masyarakat akan lahan pemakaman umum dirasa sangat mendesak.
“Dalam hal ini, kami dari Dinas Perkim yang diamanatkan untuk menyelesaikan tugas ini, dimana dalam proses yang berjalan secara simultan,Alhamdulillah diberikan kelancaran hingga hari peresmian ini,”terang Ujang, demikian sapaan akrabnya.

Pada akhirnya, mungkin begitulah cara sebuah kota menunjukkan bahwa ia benar-benar merawat warganya.
Bukan hanya ketika mereka membutuhkan sekolah, rumah sakit, jalan, pekerjaan, atau ruang untuk berkumpul.
Tetapi juga ketika seluruh perjalanan itu selesai.
Karena kota yang manusiawi bukan hanya menyediakan tempat untuk hidup. Ia juga memastikan setiap warganya memiliki tempat yang layak untuk berpulang.
Dan dari tempat orang-orang kelak beristirahat, Mataram sedang menanam satu harapan: bahwa pembangunan pada akhirnya bukan semata tentang apa yang dibangun, melainkan tentang siapa yang dirawat.**(TK-DISKOMINFO)



