Book Appointment Now

33 Tahun Mataram : Mataram Tak Hanya Dibangun, Ia Harus Dirawat

33 Tahun Mataram : Mataram Tak Hanya Dibangun, Ia Harus Dirawat
MATARAM — Sebuah kota bisa terlihat maju dari gedung-gedungnya. Bisa tampak nyaman dari jalan-jalannya. Bisa terlihat berhasil dari angka pertumbuhan ekonomi dan panjangnya daftar penghargaan.

Tetapi ada pertanyaan yang jauh lebih penting: apakah warganya merasa hidupnya semakin baik?
Di situlah sesungguhnya ukuran sebuah kota.
Mataram telah berusia 33 tahun. Tiga dekade lebih bukan waktu yang sebentar. Ada jalan panjang pembangunan yang telah dilalui, perubahan yang dihadapi, dan harapan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Karena itu, peringatan Hari Ulang Tahun ke-33 Kota Mataram tahun 2026 bukan sekadar perayaan usia. Ia adalah momentum untuk menengok kembali apa yang telah dibangun, sekaligus bertanya tentang apa yang harus dilakukan setelahnya.

Pesannya terang: Mataram tidak cukup hanya dibangun. Mataram harus dirawat.
Pesan tersebut mengemuka dalam sambutan Gubernur Nusa Tenggara Barat, H. Lalu Muhamad Iqbal, yang dibacakan oleh Wali Kota Mataram, H. Mohan Roliskana, pada upacara peringatan HUT ke-33 Kota Mataram dengan tema “Merawat Kota, Menumbuhkan Harapan.”
“Atas nama Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat dan seluruh masyarakat Nusa Tenggara Barat, saya menyampaikan selamat Hari Ulang Tahun ke-33 Kota Mataram. Semoga di usia yang ke-33 ini, Kota Mataram semakin maju, semakin nyaman, semakin sejahtera dan mampu memberikan kehidupan yang semakin baik bagi seluruh masyarakatnya,” ujar Wali Kota saat membacakan sambutan tersebut.
Sepanjang 2025, sejumlah indikator menunjukkan perjalanan positif. Ekonomi Kota Mataram tumbuh 5,43 persen. Kemiskinan turun menjadi 7,15 persen. Tingkat pengangguran terbuka berada di angka 4,80 persen. Sementara Indeks Pembangunan Manusia meningkat menjadi 82,37 poin.

Angka-angka itu penting. Tetapi angka tidak pernah berjalan sendirian.
Di belakangnya ada pedagang yang berusaha mempertahankan usaha, pekerja yang membawa pulang penghasilan, keluarga yang berjuang memenuhi kebutuhan, anak-anak yang berangkat sekolah, dan generasi muda yang sedang mencari ruang untuk menentukan masa depannya.
“Ukuran penting keberhasilan pembangunan adalah sejauh mana kemajuan kota mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya,” tegasnya kembali.
Selain itu, dalam upacara yang juga dihadiri oleh, Wakil Gubernur NTB, Hj. Dinda Damayanti Putri, Wakil Wali Kota Mataram, TGH. Mujiburrahman, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Kota Mataram, dipaparkan juga berbagai penghargaan yang diraih Kota Mataram. Kota ini ditetapkan sebagai Kota Antikorupsi kategori istimewa, meraih indeks pelayanan publik kategori sangat baik, serta dinobatkan sebagai kota sangat inovatif dalam IGA Award. Mataram juga meraih PPID Award sebagai kota berkinerja terbaik di kawasan Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua, serta mempertahankan opini WTP untuk ke-12 kalinya berturut-turut.

Namun penghargaan bukanlah garis akhir. Sebab kota tidak hidup dari piala. Kota hidup dari warganya.
Karena itu, merawat Mataram berarti lebih dari sekadar menjaga jalan, gedung, taman, dan ruang publik. Ia berarti menjaga lingkungan, memelihara budaya, memperbaiki pelayanan, memperkuat ekonomi, dan memastikan setiap warga memiliki kesempatan untuk tumbuh.
Ketika seorang anak memperoleh pendidikan yang baik, ketika keluarga mendapat pelayanan kesehatan yang layak, ketika pemuda menemukan ruang untuk berkarya, dan ketika pekerjaan semakin terbuka, di sanalah pembangunan berubah menjadi harapan.

“Ketika masyarakat memperoleh pendidikan yang baik, pelayanan kesehatan yang layak, kesempatan kerja yang lebih luas, dan peluang untuk meningkatkan kesejahteraannya, maka di situlah kita sedang menumbuhkan harapan anak-anak Kota Mataram,” ungkapnya.
Pada usia ke-33, Mataram tidak sedang mencapai garis finis. Justru perjalanan baru sedang dimulai.
Tantangan akan semakin kompleks. Kota harus semakin adaptif, inklusif, inovatif, dan berdaya saing. Namun fondasi 33 tahun memberi alasan untuk percaya bahwa Mataram mampu melangkah lebih jauh.
Sebab kota yang baik bukan sekadar kota yang tampak maju.

Kota yang baik adalah kota yang membuat warganya percaya bahwa masa depan mereka layak diperjuangkan.
Dan selama Mataram terus dirawat, selama itu pula harapan akan menemukan tempat untuk tumbuh.
Dirgahayu Kota Mataram ke-33.
Merawat Kota, Menumbuhkan Harapan.
Dari Mataram, kita kuatkan Nusa Tenggara Barat.**(TK-DISKOMINFO)



