Doa di Sangkareang, Merawat Indonesia dalam Perbedaan

Doa di Sangkareang, Merawat Indonesia dalam Perbedaan

MATARAM — Malam itu, perbedaan tidak berdiri berseberangan. Ia berdiri berdampingan.

Di Lapangan Sangkareang, Rabu (12/8) malam, ribuan orang berkumpul dalam satu ruang yang sama. Mereka datang dengan keyakinan, tradisi, dan cara berdoa yang berbeda. Namun ketika doa-doa dipanjatkan untuk Indonesia, sekat-sekat itu seperti luruh.

Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu hadir dalam satu perjumpaan kebangsaan. Bukan untuk menyamakan keyakinan, tetapi untuk menegaskan satu hal: Indonesia terlalu berharga untuk dirawat dengan cara saling mencurigai.

Di bawah langit Mataram, doa-doa itu bergantian naik. Bahasanya berbeda. Ritualnya berbeda. Tetapi harapannya sama: Indonesia tetap damai, bersatu, adil, dan bermartabat.

Sangkareang malam itu bukan sekadar lapangan. Ia menjadi ruang untuk mengingat kembali bahwa Indonesia dibangun bukan dari keseragaman, melainkan dari keberanian untuk hidup bersama dalam perbedaan.

Pesan itu menjadi napas gerakan moral nasional Peluk Indonesia, bertajuk “Beda Iman, Saling Menguatkan”, yang diluncurkan pada Mei 2026. Gerakan ini membawa pesan sederhana, tetapi penting: kerukunan tidak cukup hanya dibicarakan. Ia harus dipraktikkan dalam perjumpaan, penghormatan, dan kepedulian terhadap sesama.

Wakil Ketua DPR RI Hj. Sari Yuliati mengatakan, perjumpaan lintas agama seperti yang berlangsung di Sangkareang menjadi penting di tengah tantangan polarisasi identitas dan melemahnya kohesi sosial.

“Indonesia membutuhkan contoh nyata bahwa keberagaman bukan sumber perpecahan, melainkan kekuatan untuk membangun bangsa. Perbedaan identitas dan keyakinan harus menjadi energi untuk memperkuat persatuan,” ujar Sari.

Pesan yang sama disampaikan Gus Miftah Maulana Habiburrahman dalam tausyiah kebangsaannya.

“Momen ini menjadi pengingat bahwa persatuan sejati tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kemauan untuk saling menghormati di tengah perbedaan,” kata Gus Miftah.

Sebab, Indonesia memang tidak pernah lahir sebagai rumah yang seragam.

Ia tumbuh dari begitu banyak warna, bahasa, budaya, agama, dan tradisi. Yang membuatnya tetap berdiri bukan karena semua penghuninya sama, melainkan karena mereka memilih untuk tetap menjadi keluarga meski berbeda.

Mataram memahami itu. Di kota ini, masjid, gereja, pura, vihara, dan klenteng menjadi bagian dari wajah kehidupan sehari-hari. Warga berbeda keyakinan hidup berdampingan, bekerja bersama, bertetangga, bergotong royong, dan merayakan Indonesia dalam ruang yang sama.Kerukunan, karena itu, bukan sekadar slogan. Ia adalah kebiasaan yang harus dirawat setiap hari.

Wali Kota Mataram H. Mohan Roliskana mengatakan, keberagaman merupakan kekuatan yang harus dijaga bersama. Menurutnya, kerukunan harus hadir dalam kehidupan sehari-hari melalui sikap saling menghormati dan menjaga ruang kebersamaan.

“Mataram adalah rumah kita bersama. Perbedaan keyakinan bukan untuk memisahkan, tetapi menjadi kekayaan yang harus kita jaga. Selama kita saling menghormati dan menjaga persaudaraan, maka keberagaman akan menjadi kekuatan bagi kota dan bangsa ini,” ujar Mohan.

Malam itu,  kegiatan yang juga dihadiri oleh Wakil Gubernur NTB Hj. Indah Dhamayanti Putri, Wali Kota Mataram H. Mohan Roliskana, Wakil Wali Kota Mataram TGH Mujiburrahman, Unsur Forkopimda NTB, Ketua TP PKK Kota Mataram Hj. Kinnastri Mohan Roliskana, Sekda Kota Mataram H. L. Alwan Basri, Kepala Kanwil Kementerian Agama NTB H. Zamroni Aziz, serta para ulama, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan ribuan warga dari berbagai penjuru Pulau Lombok, Sangkareang seperti mengirimkan pesan sederhana ke seluruh penjuru negeri.

Bahwa menjaga Indonesia tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar.

Kadang, ia dimulai dari kesediaan mendengar. Dari kemampuan menghormati. Dari keberanian memberi ruang kepada mereka yang berbeda. Dan dari kemauan untuk berkata: kita tidak harus sama untuk dapat berjalan bersama.

Doa-doa kemudian kembali hening. Namun pesannya tinggal. Beda iman, saling menguatkan. Sebab Indonesia tidak membutuhkan keseragaman untuk menjadi kuat. Indonesia membutuhkan kita untuk saling menjaga.

Dan Mataram, malam itu, memilih untuk kembali mengingatkan: berbeda bukan alasan untuk menjauh. Justru karena berbeda, kita punya alasan untuk saling merawat.**(TK-DISKOMINFO)

Share your love

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter