Book Appointment Now

Doa Munajat Keselamatan Bangsa, “Dari Lombok untuk Indonesia”

Doa Munajat Keselamatan Bangsa, “Dari Lombok untuk Indonesia”
Mataram – Malam itu, Lapangan Sangkareang bukan sekadar ruang terbuka. Ia menjadi tempat ribuan manusia menundukkan kepala, mengangkat tangan, dan menitipkan harapan kepada langit.

Dari tempat itu, doa-doa dilantunkan. Bukan hanya untuk diri sendiri, bukan pula semata untuk sebuah daerah, melainkan untuk sesuatu yang lebih besar: keselamatan bangsa dan masa depan Indonesia.
Di tengah tantangan kebangsaan yang semakin kompleks, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Mataram pada Sabtu (24/07) malam, menggelar Doa Munajat Keselamatan Bangsa bertema “Dari Lombok untuk Indonesia” di Lapangan Sangkareang, Kota Mataram.

Puluhan ribu masyarakat dari berbagai wilayah di Pulau Lombok hadir. Para ulama, tokoh agama, tokoh masyarakat, santri, badan otonom Nahdlatul Ulama, serta unsur pemerintah berkumpul dalam satu ruang kebersamaan. Sekretaris Daerah Kota Mataram, H. Lalu Alwan Basri, turut hadir dalam kegiatan tersebut.
Malam itu, perbedaan latar belakang seolah luruh dalam satu kesadaran: bahwa Indonesia adalah rumah bersama yang harus dijaga dengan doa, ikhtiar, dan persaudaraan.

Ketua PCNU Kota Mataram, TGH Muammar Arafat, mengatakan doa munajat yang digelar bukan sekadar ritual keagamaan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut merupakan ikhtiar batin sekaligus pesan moral kepada seluruh elemen bangsa agar tidak pernah lelah merawat persatuan.
“Doa ini adalah ikhtiar kita bersama. Kita ingin menitipkan keselamatan bangsa kepada Allah SWT, sekaligus mengingatkan bahwa menjaga Indonesia adalah tanggung jawab kita semua. Persatuan, kerukunan, dan ukhuwah harus terus kita rawat,” ujar Muammar.
Menurutnya, bangsa yang besar tidak hanya dibangun dengan kekuatan ekonomi, teknologi, dan pembangunan fisik. Ada kekuatan lain yang tidak kalah penting, yakni kekuatan moral dan spiritual yang tumbuh dari kesadaran masyarakat untuk saling menghormati dan menjaga satu sama lain.

Karena itu, semangat “Dari Lombok untuk Indonesia” diharapkan menjadi pesan yang melampaui batas geografis. Lombok, dengan tradisi keislaman yang kuat dan kehidupan masyarakat yang beragam, ingin menunjukkan bahwa nilai agama dan kebangsaan dapat berjalan beriringan dalam satu semangat: menjaga Indonesia.
Sekretaris Daerah Kota Mataram, H. Lalu Alwan Basri, mengapresiasi pelaksanaan doa munajat tersebut. Menurutnya, kegiatan yang mempertemukan ulama, pemerintah, dan masyarakat dalam satu ruang kebersamaan menjadi momentum penting untuk memperkuat persaudaraan dan menjaga harmoni sosial.
“Kegiatan seperti ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa membangun bangsa tidak hanya membutuhkan ikhtiar lahiriah, tetapi juga kekuatan batin dan spiritual. Dari Mataram dan Lombok, kita bersama-sama memanjatkan doa agar Indonesia senantiasa diberikan keselamatan, kedamaian, persatuan, dan keberkahan,” ungkapnya.

Ia berharap semangat kebersamaan yang tumbuh dari kegiatan tersebut dapat terus dijaga dan diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari. Menjaga Indonesia, katanya, bukan hanya tugas pemerintah atau kelompok tertentu, melainkan tanggung jawab seluruh masyarakat.
Rangkaian kegiatan diisi dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, doa munajat bersama, serta tausiah kebangsaan. Pesan yang disampaikan sederhana, tetapi mendasar: memperkuat iman, mempererat persaudaraan, menjaga kerukunan, dan menumbuhkan kepedulian terhadap masa depan bangsa.
Di tengah suasana yang khidmat, ribuan jamaah larut dalam doa. Ada harapan yang dipanjatkan untuk keselamatan negeri. Ada kecemasan yang dititipkan kepada Tuhan. Ada pula keyakinan bahwa bangsa ini akan selalu memiliki jalan untuk melewati setiap tantangan selama persaudaraan tetap dijaga.
Kehadiran puluhan ribu masyarakat dari berbagai penjuru Pulau Lombok menjadi gambaran betapa kuatnya energi kebersamaan yang masih hidup di tengah masyarakat.

Lapangan Sangkareang malam itu menjadi titik temu antara ulama dan umara, antara pemerintah dan rakyat, antara doa dan ikhtiar.
Dari Lombok, sebuah pesan dikirimkan kepada Indonesia: di tengah dunia yang semakin gaduh, masih ada ruang untuk menundukkan ego dan mengangkat doa. Perbedaan tidak harus menjadi alasan untuk saling menjauh. Persatuan tidak selalu lahir dari pidato-pidato besar, tetapi juga dari kesediaan untuk duduk bersama, berdoa bersama, dan berharap pada masa depan yang sama.
PCNU Kota Mataram berharap semangat “Dari Lombok untuk Indonesia” tidak berhenti sebagai tema dalam satu malam. Ia diharapkan tumbuh menjadi gerakan moral yang terus hidup—mengajak masyarakat menjaga persatuan, memperkuat solidaritas sosial, merawat toleransi, serta menempatkan nilai-nilai agama dan kebangsaan sebagai fondasi kehidupan sehari-hari.

Sebab Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar pembangunan.
Indonesia membutuhkan masyarakat yang saling menjaga.
Dan malam itu, dari sebuah lapangan di jantung Kota Mataram, puluhan ribu suara menyatu dalam satu harapan:
Semoga Indonesia selalu dalam lindungan Tuhan.
Aman dalam persaudaraan.
Damai dalam keberagaman.
Dan terus melangkah menuju masa depan yang lebih maju dan sejahtera.
Dari Lombok untuk Indonesia.**(TK-DISKOMINFO



