Suara Kecil dari Tepi Pantai: Anak-Anak Mataram Melawan Sampah Plastik Lewat Cerita

Suara Kecil dari Tepi Pantai: Anak-Anak Mataram Melawan Sampah Plastik Lewat Cerita

Mataram – Di bawah langit Pantai Ampenan yang mulai menguning menjelang senja, suara anak-anak terdengar bersahut-sahutan di antara debur ombak dan tiupan angin laut. Di tangan mereka, botol-botol plastik bekas berubah rupa menjadi tokoh cerita. Ada yang menjadi gurita raksasa, ada yang disulap menjadi karakter laut dengan wajah lucu dan warna-warna cerah. Anak-anak itu berdiri gugup di balik layar sederhana, menunggu giliran tampil dalam pementasan wayang botol bertajuk “Tuselak: Gurite Raksasa Pantai Ampenan.”

Mereka bukan dalang profesional. Mereka adalah anak-anak dari Gerakan Literasi Paus Biru yang selama beberapa bulan terakhir belajar memahami satu hal yang selama ini begitu dekat dengan kehidupan mereka: sampah plastik.

Bagi sebagian orang, botol plastik mungkin hanya benda sekali pakai yang selesai urusannya setelah dibuang. Namun di tangan anak-anak itu, plastik berubah menjadi cerita. Menjadi medium untuk berbicara tentang laut, pantai, dan kegelisahan kecil yang selama ini mereka lihat setiap hari.

“Kamu merasa apa saat melihat plastik di pantai,” tulis salah seorang anak dalam secarik origami warna kuning saat sesi refleksi berlangsung. Anak lainnya menuliskan pertanyaan sederhana namun mengendap lama di kepala orang dewasa: “Menurut kamu plastik ini datangnya darimana?”

Pertanyaan-pertanyaan polos itulah yang kemudian menjadi denyut utama program “Dari Sampah Plastik Menjadi Cerita: Edukasi Lingkungan dan Kreasi Reuse melalui Wayang Botol.” Sebuah inisiatif yang lahir bukan hanya untuk mengajarkan anak-anak memilah sampah, tetapi juga mengajak mereka memahami bahwa persoalan plastik jauh lebih besar dari sekadar kebiasaan membuang sampah sembarangan.

Program ini berangkat dari terpilihnya Amor sebagai penerima Algalita Student Mini Grants, sebuah dukungan untuk mengembangkan edukasi dan aksi terkait polusi plastik. Namun alih-alih memilih pendekatan kampanye yang kaku dan penuh data, program ini justru berjalan lewat jalur yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat: seni, cerita, dan anak-anak.

Sebab sering kali, pesan lingkungan terasa jauh ketika hanya hadir dalam bentuk angka dan larangan. Tetapi ketika disampaikan melalui cerita yang dimainkan anak-anak di tepi pantai tempat mereka tumbuh, pesan itu menjadi lebih hidup dan mudah menyentuh siapa saja.

Dalam prosesnya, anak-anak Gerakan Literasi Paus Biru tidak hanya diajak membuat wayang dari botol bekas. Mereka juga diajak mendengar, berpikir, dan merasakan. Melalui origami berwarna, mereka merekam pengalaman pribadi tentang plastik. Warna biru berbicara tentang dari mana plastik berasal. Hijau tentang dampaknya di pantai. Kuning tentang perasaan mereka ketika melihat sampah berserakan. Merah tentang imajinasi karakter. Ungu tentang pertanyaan yang belum mereka mengerti.

Dari tangan-tangan kecil dan jawaban-jawaban sederhana itulah naskah pementasan disusun.

Amor sebagai project lead, bersama Suci dari Gerakan Literasi Paus Biru dan Abram dari Archipelagic Research Center, merangkai refleksi anak-anak menjadi cerita tentang “Tuselak”, gurita raksasa yang hidup di Pantai Ampenan. Naskah tersebut kemudian dikembangkan bersama Sekolah Pedalangan Wayang Sasak agar tetap berakar pada budaya lokal, menggunakan perpaduan Bahasa Sasak dan Bahasa Indonesia sehari-hari yang akrab di telinga masyarakat.

Selama hampir tiga bulan, anak-anak itu berproses. Mereka belajar membuat wayang dari limbah botol, memahami isu plastik, hingga berlatih memainkan karakter di balik layar pertunjukan. Ada yang awalnya malu berbicara. Ada yang kesulitan menghafal dialog. Ada pula yang baru pertama kali berdiri di depan banyak orang.

Namun malam pementasan itu, mereka tampil dengan percaya diri.

Di antara tawa penonton dan sorak anak-anak lain yang menonton dari pinggir pantai, terselip pesan yang sebenarnya serius: laut sedang tidak baik-baik saja.

Pesan itu terasa semakin kuat karena datang dari anak-anak yang sehari-hari hidup dekat dengan pantai. Mereka melihat sendiri bagaimana plastik terbawa ombak, tersangkut di pasir, atau menumpuk di sudut-sudut pesisir setelah hujan datang. Mereka tumbuh bersama persoalan yang sering dianggap biasa oleh orang dewasa.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Mataram, H. M. Ramadhani, Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram,Cahya Samudra., serta dosen Universitas Mataram, Muhamad Bai’ul Hak., yang selama ini aktif mengembangkan program pengabdian masyarakat terkait edukasi dan pengelolaan sampah. Kehadiran mereka menjadi penanda bahwa isu lingkungan tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan ruang kolaborasi antara komunitas, pemerintah, akademisi, dan masyarakat.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Mataram, H. M. Ramadhani, mengapresiasi pendekatan edukasi lingkungan yang dilakukan melalui seni dan keterlibatan anak-anak. Menurutnya, kampanye lingkungan akan lebih kuat ketika masyarakat merasa dekat dengan pesan yang disampaikan.

“Anak-anak punya cara yang jujur dan menyentuh dalam menyampaikan pesan. Ketika mereka berbicara tentang laut dan sampah plastik lewat cerita, pesan itu menjadi lebih mudah diterima masyarakat. Ini bukan hanya pertunjukan seni, tetapi juga bentuk pendidikan lingkungan yang hidup dan membangun kesadaran bersama,” ujarnya.

Ia juga menilai pemanfaatan ruang publik seperti Pantai Ampenan untuk kegiatan edukatif dan kreatif menjadi bagian penting dalam membangun budaya kota yang lebih peduli terhadap lingkungan sekaligus ramah bagi tumbuhnya kreativitas anak muda dan komunitas.

Namun di luar seluruh dukungan itu, kekuatan utama program ini justru lahir dari sesuatu yang sederhana: keberanian anak-anak untuk bercerita.

Karena pada akhirnya, kampanye lingkungan tidak selalu harus hadir lewat seminar besar atau slogan yang rumit. Kadang ia cukup lahir dari botol plastik bekas, suara anak-anak, dan sebuah pertunjukan kecil di tepi Pantai Ampenan yang membuat orang-orang berhenti sejenak untuk mendengar.**(TK-DISKOMINFO)

Share your love