Wawali Mataram Tekankan Keseimbangan Teknologi, Lingkungan dan Nilai Spiritual di ICIIS 2026

Wawali Mataram Tekankan Keseimbangan Teknologi, Lingkungan dan Nilai Spiritual di ICIIS 2026

Mataram – Wakil Wali Kota Mataram, TGH. Mujiburrahman, menegaskan bahwa pembangunan kota modern tidak cukup hanya bertumpu pada kemajuan teknologi dan digitalisasi, tetapi juga harus dibangun di atas keseimbangan lingkungan serta nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan.

Hal tersebut disampaikan saat membuka International Colloquium on Interdisciplinary Islamic Studies (ICIIS) 2026 yang diselenggarakan Pascasarjana UIN Mataram bekerja sama dengan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang berlangsung di Hotel Jayakarta, Selasa (19/05/2026).

Dalam keynote speech bertajuk “Divine Balance in a Digital Age: Islamic Studies Response to Climate Change and Technological Hegemony”, Wakil Wali Kota menyoroti tantangan besar dunia modern di tengah percepatan teknologi digital, kecerdasan buatan (artificial intelligence), dan krisis perubahan iklim global.

“Teknologi mungkin mampu membuat manusia hidup lebih cepat. Tetapi hanya nilai-nilai ketuhanan yang mampu membuat manusia tetap hidup dengan arah,” ujar TGH. Mujiburrahman di hadapan para akademisi, peneliti, dan peserta konferensi internasional.

Menurut TGH. Mujiburrahman, dunia saat ini menghadapi paradoks besar. Di satu sisi teknologi berkembang sangat cepat dan mampu menghubungkan manusia lintas negara hanya dalam hitungan detik, namun di sisi lain dunia juga menghadapi persoalan serius seperti polarisasi sosial, disinformasi, hilangnya empati sosial, hingga kerusakan lingkungan akibat eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan.

Dalam perspektif Islam, lanjutnya, keseimbangan atau mizan merupakan prinsip fundamental kehidupan yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta.

“Ketika keseimbangan itu rusak, maka yang muncul adalah berbagai bentuk kerusakan seperti bencana ekologis, ketimpangan sosial, kerakusan ekonomi, hingga krisis moral,” ungkapnya.

Wakil Wali Kota menegaskan bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan realitas yang saat ini sudah dirasakan masyarakat, termasuk di Kota Mataram. Banjir, cuaca ekstrem, persoalan sampah perkotaan, hingga tekanan terhadap lingkungan menjadi tantangan nyata yang harus dihadapi bersama.

Belajar dari peristiwa banjir besar yang sempat melanda Kota Mataram, Pemerintah Kota Mataram mulai menempatkan isu lingkungan dan ketahanan kota sebagai salah satu fokus utama pembangunan daerah.

“Kami menyadari bahwa pembangunan kota tidak lagi cukup hanya berbicara tentang pertumbuhan ekonomi dan infrastruktur, tetapi juga harus berbicara tentang resiliensi lingkungan dan keberlanjutan hidup masyarakat,” jelasnya.

Sebagai kota dengan luas wilayah kurang dari 61 kilometer persegi namun memiliki kepadatan penduduk dan dinamika urban yang tinggi, Kota Mataram menghadapi tantangan serius mulai dari alih fungsi lahan, drainase perkotaan, kualitas air, hingga persoalan sampah yang mencapai lebih dari 200 ton per hari.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Pemerintah Kota Mataram mulai menggeser paradigma pengelolaan sampah dari pola “kumpul-angkut-buang” menuju pengelolaan berbasis sumber dan ekonomi sirkular.

Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah Program Tempah Dedoro, yakni pengolahan sampah organik berbasis rumah tangga dan komunitas lingkungan melalui lubang biopori komunal yang mampu mengurangi sampah organik sekaligus menghasilkan kompos bagi masyarakat.

Menurutnya, persoalan lingkungan tidak dapat diselesaikan hanya dengan teknologi semata, tetapi juga membutuhkan perubahan kesadaran dan budaya masyarakat.

“Smart city tanpa nilai spiritual dapat melahirkan kota yang canggih secara sistem, tetapi rapuh secara sosial,” tegasnya.

Karena itu, Pemerintah Kota Mataram terus mendorong pembangunan kota masa depan yang menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan kemanusiaan, efisiensi digital dan empati sosial, pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan, serta kecerdasan artifisial dan kebijaksanaan moral.

Ia juga menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dan studi Islam dalam menjawab tantangan zaman. Kajian Islam, menurutnya, tidak boleh berhenti pada ruang-ruang normatif semata, tetapi harus mampu hadir memberikan solusi terhadap persoalan perubahan iklim, etika teknologi, ketimpangan sosial, dan krisis kemanusiaan digital.

Forum ICIIS 2026 diharapkan menjadi ruang dialog integratif yang mempertemukan ilmu agama, teknologi, lingkungan, sosial, dan kebijakan publik dalam membangun peradaban dunia yang lebih adil, berkelanjutan, dan berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan.

Share your love