Book Appointment Now

Prof. Dr. KH. Din Syamsudin Bahas “Dunia Islam dan Masa Depan Peradaban” di Stadium General Pascasarjana UIN Mataram 2025
Prof. Dr. KH. Din Syamsudin Bahas “Dunia Islam dan Masa Depan Peradaban” di Stadium General Pascasarjana UIN Mataram 2025
Mataram — Suasana khidmat dan penuh makna tergambar dalam pelaksanaan Stadium General Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram Tahun 2025 yang digelar di Auditorium UIN Mataram, Kamis (30/10/2025).

Kegiatan ini menghadirkan tokoh nasional, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2005–2015, sekaligus Guru Besar Politik Islam Global FISIP UIN Jakarta dan Ketua Poros Dunia Wasatiyat Islam, Prof. Dr. KH. Din Syamsudin, MA, dengan tema “Dunia Islam dan Masa Depan Peradaban.”
Acara semakin khusyuk ketika Wakil Wali Kota Mataram, TGH. Mujiburrahman, hadir dan didaulat membacakan doa di awal kegiatan. Lantunan doa yang fasih dan penuh penghayatan tersebut mengundang apresiasi dari Prof. Din Syamsudin.
“Luar biasa, ada Wakil Wali Kota yang hadir dan membaca doa dengan begitu fasih. Saya menyimpulkan, Bapak Wakil Wali Kota ini seorang penyair di antara para penyair,” tutur Prof. Din disambut tepuk tangan hadirin.

Dalam kuliahnya, Prof. Din Syamsudin menguraikan pandangan luas mengenai kondisi peradaban dunia dan posisi strategis dunia Islam di masa depan. Ia menegaskan bahwa tema “Dunia Islam dan Masa Depan Peradaban” tidak hanya berbicara tentang peradaban Islam, tetapi juga tentang arah dan nasib peradaban dunia secara global yang kini tengah menghadapi banyak tantangan.
Menurutnya, dunia saat ini sedang berada dalam situasi yang kompleks dan tidak menentu.
“Banyak pakar menyebut dunia sekarang sebagai the world of disorder — dunia yang berantakan. Konflik terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk tragedi kemanusiaan di Gaza yang merupakan bentuk genosida,” jelasnya.

Ia juga mengutip istilah lain seperti the world of uncertainty yang menggambarkana ketidakpastian global di berbagai bidang, hingga the world of distraction sebagaimana disebut oleh Fukuyama, yang menandakan dunia sedang mengalami ‘demam besar’ akibat berbagai gangguan struktural dan moral.
Lebih lanjut, Prof. Din menjelaskan bahwa pergeseran besar tengah terjadi di dunia, termasuk pergeseran gravitasi ekonomi global dari kawasan Atlantik menuju Indo-Pasifik, seiring dengan kebangkitan negara-negara Asia seperti Tiongkok. Ia juga menyinggung hasil kajian Dewan Interaksi Kelompok Mantan Kepala Negara dan Pemerintahan Dunia, yang menyimpulkan bahwa saat ini dunia mengalami “global damages” — kerusakan global yang bersifat akumulatif dan berpangkal pada sistem dunia yang rusak, yaitu sistem sekular-humanistik yang menafikan nilai-nilai spiritual dan kehidupan akhirat.
“Sistem yang tumbuh atas dasar humanisme sekuler menjauhkan manusia dari nilai-nilai ketuhanan. Akibatnya, muncul liberalisasi ekonomi, politik, dan budaya tanpa batas. Maka diperlukan perubahan dan solusi alternatif yang berakar pada nilai-nilai keagamaan, khususnya nilai-nilai Islam,” tegasnya.
Dalam paparannya, Prof. Din juga menekankan empat potensi utama dunia Islam yang dapat menjadi modal kebangkitan peradaban di masa depan:

Pertama, Sumber Daya Manusia (Human Resources). Dunia Islam memiliki jumlah umat yang besar, mencapai 1,8 miliar jiwa atau sekitar 24 persen dari total penduduk dunia. Berdasarkan penelitian Pew Research Center, pada tahun 2050 jumlah tersebut diperkirakan meningkat menjadi 29,5 persen. “Namun secara kualitatif kita masih tertinggal. Kontribusi ekonomi dunia Islam baru sekitar 7 persen dari ekonomi global,” jelasnya.
Kedua, Sumber Daya Alam (Natural Resources). Negara-negara Islam, lanjutnya, dikaruniai Allah SWT dengan kekayaan sumber daya alam melimpah seperti minyak, gas, dan uranium. “Mayoritas anggota OPEC adalah negara Islam — ini bukan kebetulan, tapi takdir ilahi yang menunjukkan potensi besar dunia Islam,” ujarnya.

Ketiga, Sumber Daya Nilai (Value Resources). Nilai-nilai Islam merupakan sumber daya peradaban yang luar biasa. “Islam adalah agama yang paling kuat menekankan pentingnya waktu dan tatanan hidup. Dari salat, puasa, hingga ibadah lainnya, semua terikat oleh waktu — ini menandakan keteraturan peradaban Islam,” terangnya.
Keempat, Sumber Daya Sejarah (Historical Resources). Dunia Islam pernah mengalami masa kejayaan pada abad ke-7 hingga ke-11 Masehi, ketika ilmu pengetahuan, filsafat, dan teknologi berkembang pesat. “Dari Ibnu Khaldun hingga Al-Farabi, para ilmuwan Muslim meneruskan dan memperkaya ilmu pengetahuan dunia. Maka kebangkitan Islam bukan hal mustahil, karena kita sudah memiliki pengalaman historis yang gemilang,” pungkasnya.
Stadium General Pascasarjana UIN Mataram 2025 ini menjadi momentum penting bagi sivitas akademika untuk memperdalam wawasan tentang peradaban Islam dan peran strategis umat Muslim dalam membangun masa depan dunia yang lebih beradab, adil, dan berkeadilan.



