Book Appointment Now

Kader PKK Didorong Jadi Motor Pengelolaan Sampah dari Rumah

Kader PKK Didorong Jadi Motor Pengelolaan Sampah dari Rumah
MATARAM — 300 sampai 400 ton sampah lahir setiap hari dari Kota Mataram. Angka itu bukan sekadar statistik. Ia adalah gambaran tentang seberapa banyak beban yang harus ditanggung sebuah kota yang ruangnya terbatas, penduduknya terus bergerak, dan gaya hidup warganya semakin praktis.

Persoalannya, sampah tidak pernah benar-benar hilang ketika diangkut dari depan rumah. Ia hanya berpindah tempat. Dan ketika tempat pembuangan akhir mulai menghadapi keterbatasan kapasitas, pertanyaan paling mendasar kembali muncul: sampai kapan Mataram hanya mengandalkan pola angkut–buang?
Di tengah situasi itu, Wali Kota Mataram H. Mohan Roliskana memilih mendorong perubahan dari sumbernya: rumah tangga. Dalam Tasyakuran Hari Kesatuan Gerak PKK ke-54 Tahun 2026, Orang nomor satu di Kota Mataram ini meminta Tempah Dedoro tidak berhenti menjadi program, jargon, atau sekadar gagasan yang bagus di atas kertas. Ia ingin program itu bekerja, menghasilkan sesuatu, dan menjadi bagian dari cara baru Mataram menghadapi persoalan sampah.
“Tempah Dedoro ini tidak boleh mandek. Saya tidak mau hanya diterangkan ide saja, tidak mau selesai dalam rangka gagasan saja, tetapi ini harus dioperasionalkan dan harus berdampak,” tegasnya.

Baginya, keberhasilan pembangunan tidak lahir dari satu sektor yang bekerja sendirian. PKK, perangkat daerah dan masyarakat harus bergerak dalam satu ekosistem. Persoalan stunting, kemiskinan, narkoba, kenakalan remaja, kesehatan ibu dan anak hingga lingkungan, semuanya memiliki irisan yang membutuhkan kerja bersama.
Ia mengapresiasi keterlibatan PKK yang selama ini bersinergi dengan organisasi perangkat daerah. Menurutnya, berbagai agenda pemerintah memiliki keterhubungan sehingga penyelesaiannya tidak bisa dilakukan secara parsial.
“Setiap agenda pemerintah, baik isu utama, prioritas maupun lanjutan, semuanya terhubung satu sama lain. Perlu kolaborasi, perlu kolektivitas kita semua,” ujarnya.
Namun, isu sampah kini membutuhkan perhatian yang lebih konkret.

Kota Mataram menghadapi persoalan daya tampung Tempat Pembuangan Akhir Regional Kebon Kongok. Di sisi lain, produksi sampah terus berjalan setiap hari. Pemerintah Kota Mataram bahkan telah menyiapkan alokasi sekitar Rp600 juta untuk mendukung penanganan Tempah Dedoro, termasuk kendaraan khusus dan hotline layanan.
Konsep yang dibangun pun tidak berhenti pada pemilahan.
Sampah organik rumah tangga diarahkan untuk diolah melalui proses komposting. Dengan dukungan aktivator seperti EM4, sampah diharapkan berubah menjadi produk yang memiliki manfaat dan nilai guna. Hasil pengolahan itu nantinya dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan taman kota maupun mendukung pengembangan pembibitan tanaman dan cabai di Pagutan.
Di titik inilah Bang Aji, demikian saapan akrabnya, ingin memastikan satu hal:program tidak boleh berjalan sendiri-sendiri.
“Satu program ini nyambung sama program yang ini, nyambung lagi dengan program yang lain. Jadi satu sama lain nyambung,” katanya.

Ketua TP PKK Kota Mataram Hj. Kinnastri Mohan Roliskana pun meminta kader PKK kembali mengambil peran dalam kampanye Tempah Dedoro. Menurutnya, edukasi kepada masyarakat harus terus dilakukan, terutama setelah Dinas Lingkungan Hidup menyiapkan alur layanan, tata cara dan hotline pengelolaan Tempah Dedoro.
Ia meminta konten edukasi yang sebelumnya telah dibuat kembali dipublikasikan dan dilengkapi dengan informasi mengenai mekanisme pengelolaan sampah tersebut.
“Sekarang karena DLH sudah ada hotline-nya, tata caranya, dan sudah ada flyernya mengenai proses alur Tempah Dedoro ini, saya minta ibu-ibu kembali membuat konten mengenai Tempah Dedoro ini,” terangnya
Sebab pada akhirnya, perang melawan sampah tidak akan dimenangkan hanya dengan menambah armada pengangkut atau memperluas tempat pembuangan.
Ia harus dimulai dari kebiasaan. Dari dapur rumah. Dari halaman rumah. Dari tangan warga yang memilih memilah sebelum membuang.
Tempah Dedoro karena itu bukan sekadar tempat mengolah sampah. Ia adalah percobaan untuk mengubah cara sebuah kota memperlakukan sampah: dari sesuatu yang ingin segera disingkirkan, menjadi sesuatu yang masih bisa dimanfaatkan.

Dan untuk Mataram, perubahan itu tidak bisa lagi menunggu.
Sebab jika sampah terus bertambah sementara ruang untuk membuangnya semakin terbatas, maka pilihan Mataram sebenarnya sederhana: mengubah cara mengelola sampah sekarang, atau suatu hari nanti sampah yang akan memaksa kota berubah.**(TK-DISKOMINFO)



