Book Appointment Now

Bahasa Arab Jadi Jembatan Diplomasi: Mataram dan Rwanda Bahas Kerja Sama Sister City
Bahasa Arab Jadi Jembatan Diplomasi: Mataram dan Rwanda Bahas Kerja Sama Sister City
MATARAM – Ada yang istimewa dalam hubungan diplomatik antara Pemerintah Kota Mataram dan Republik Rwanda. Bahasa Arab menjadi jembatan awal terjalinnya kedekatan yang kini mulai diarahkan menuju kerja sama konkret antarkota. Hal ini terungkap dalam kunjungan Wakil Wali Kota Mataram, TGH. Mujiburrahman, ke Kedutaan Besar Republik Rwanda di Jakarta, Selasa (3/5).

Pertemuan tersebut merupakan tindak lanjut dari interaksi hangat yang terjalin saat kunjungan 25 duta besar negara sahabat ke Pantai Eks Pelabuhan Ampenan, Mataram, pada 9 Mei 2025. Dalam kunjungan tersebut, TGH. Mujiburrahman menjalin komunikasi personal dengan Duta Besar Republik Rwanda untuk Indonesia, Sheikh Abdul Karim Harelimana. Pertemuan mereka menjadi lebih akrab lantaran keduanya memiliki kesamaan dalam penguasaan Bahasa Arab.

“Bahasa Arab menjadi titik temu kami. Karena sama-sama fasih, kami bisa berbincang secara lebih leluasa dan mendalam. Dari situlah muncul rasa saling percaya yang tumbuh secara alami,” ujar TGH. Mujiburrahman.

Kehadiran Wakil Wali Kota Mataram ke Kedutaan Besar Rwanda, yang turut didampingi oleh Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram Dr. Cahya Samudra, merupakan kunjungan balasan yang tidak hanya mempererat hubungan personal, tetapi juga membuka ruang diplomasi kota ke kota.
Dalam pertemuan tersebut, Dubes Sheikh Abdul Karim menyampaikan komitmennya untuk mendorong terjalinnya hubungan sister city antara Kota Mataram dan Kota Kigali, ibu kota Republik Rwanda.

Salah satu sektor yang dinilai potensial untuk menjadi titik awal kerja sama adalah pariwisata. Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram, Dr. Cahya Samudra, menyambut peluang ini dengan penuh optimisme.
“Kami melihat Rwanda sebagai mitra yang menjanjikan. Baik Rwanda maupun Mataram memiliki karakteristik wisata yang bisa saling melengkapi,” ujarnya.

Menurut Cahya, banyak orang memiliki persepsi bahwa Rwanda didominasi oleh sabana dan dataran gersang. Padahal, negara di kawasan Afrika Timur itu juga memiliki kawasan pegunungan yang berhawa sejuk, mirip dengan lanskap dataran tinggi di Indonesia. Sebaliknya, Rwanda tidak memiliki pantai seperti yang dimiliki Kota Mataram.
“Inilah celah kerja sama yang bisa dimanfaatkan. Kami bisa saling mengisi kekurangan dan bersama-sama mempromosikan daya tarik wisata yang dimiliki masing-masing wilayah,” jelasnya.

Pemerintah Kota Mataram memandang langkah ini bukan sekadar diplomasi simbolik, melainkan upaya konkret dalam membuka jaringan internasional untuk mendorong sektor pariwisata, budaya, dan ekonomi kreatif. Dengan modal komunikasi yang cair dan kesamaan nilai budaya, Pemerintah Kota Mataram siap menjajaki kerja sama lebih luas dengan Rwanda, dimulai dari hubungan antarkota. (TK-Diskominfo)



