Peringatan Maulid Nabi, Wakil Wali Kota Ajak ASN Utamakan Keridaan Allah dalam Pengabdian

Peringatan Maulid Nabi, Wakil Wali Kota Ajak ASN Utamakan Keridaan Allah dalam Pengabdian

Mataram – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW hendaknya menjadi momentum untuk meneladani akhlak dan keteguhan Rasulullah dalam menghadapi berbagai ujian, termasuk penolakan, hinaan, dan perlakuan yang tidak menyenangkan. Keteladanan tersebut tercermin dari sikap Rasulullah yang senantiasa mengutamakan keridaan Allah SWT dalam setiap langkah dan perjuangannya.

Pesan tersebut disampaikan Wakil Wali Kota Mataram, TGH Mujiburrahman, saat memberikan sambutan pada Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar jajaran Pemerintah Kota Mataram di Halaman Kantor Wali Kota Mataram, Selasa (08/09/2026).

TGH Mujiburrahman mengisahkan perjalanan Rasulullah SAW ketika berdakwah ke Thaif. Kedatangan Rasulullah ke daerah tersebut diharapkan dapat memperoleh dukungan dan perlindungan, namun yang diterima justru penolakan, hinaan, cacian, bahkan lemparan batu. Rasulullah kemudian berlindung di sebuah kebun anggur. Dalam kondisi tersebut, Rasulullah SAW bermunajat kepada Allah SWT. Menurut TGH Mujiburrahman, doa tersebut menggambarkan betapa keridaan Allah menjadi tujuan utama Rasulullah, sekalipun harus menghadapi penolakan dari manusia.

“Ketika Nabi kita menemukan gayung yang tidak bersambut di daerah Thaif, beliau mencari dukungan dan perlindungan. Tetapi respons yang diterima justru bertolak belakang dengan harapan. Beliau bukan hanya ditolak, tetapi dihina, dicaci maki, bahkan dilempari. Sampailah beliau di sebuah kebun anggur dan di situlah beliau bermunajat. Yang perlu kita renungkan dari munajat tersebut adalah bahwa yang pertama dan utama dicari Nabi kita adalah keridaan Allah SWT,” tuturnya.

Menurut Wakil Wali Kota, kisah tersebut memiliki makna penting bagi seluruh aparatur sipil negara (ASN), khususnya dalam menjalankan tugas sebagai pelayan masyarakat. Seorang ASN tidak semestinya menjadikan sanjungan manusia sebagai tujuan utama dalam bekerja, melainkan menjadikan keridaan Allah SWT sebagai landasan dalam setiap ucapan, tindakan, dan pengabdian.

“Sebagai ASN dan pelayan masyarakat, kita harus memegang prinsip ini. Apa yang kita kerjakan dan apa yang kita narasikan hendaknya diniatkan untuk mencari keridaan Allah SWT. Kalau keridaan manusia itu relatif, ada yang senang dan ada yang tidak senang. Memuaskan semua orang adalah perkara yang sulit didapatkan, tetapi mencari keridaan Allah SWT adalah sesuatu yang tidak boleh kita tinggalkan,” tegasnya.

Ia kemudian mengajak seluruh jajaran Pemerintah Kota Mataram menjadikan momentum Maulid Nabi sebagai kesempatan untuk memperkuat niat dan memperbaiki kualitas pengabdian. Menurutnya, terdapat sejumlah sikap yang dapat menjadi pedoman untuk memperoleh keridaan Allah SWT.

Sikap pertama adalah menjadi pribadi yang dermawan dan peduli terhadap masyarakat. Kedermawanan dapat diwujudkan dengan berbagi rezeki, memberikan sedekah, maupun membantu dan memberikan donasi kepada saudara-saudara yang membutuhkan.

“Sedekah itu bisa memadamkan panasnya suasana di alam kubur. Kelak pada hari kiamat, seseorang akan berjalan dan bernaung di bawah sedekahnya,” ujarnya.

Kedua, membangun pribadi yang tawadhu atau rendah hati. Jabatan, kedudukan, maupun keluasan ilmu, kata TGH Mujiburrahman, tidak boleh menjadi alasan untuk menyombongkan diri. Sebaliknya, semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar pula tuntutan untuk tetap rendah hati.

“Setinggi apa pun jabatan kita, seluas apa pun ilmu yang ada pada diri kita, tawadhu adalah sesuatu yang dicintai Allah SWT. Nabi bersabda, barang siapa merendahkan diri karena Allah, maka Allah akan mengangkat derajatnya. Maka rendahkanlah diri, karena Allah yang akan mengangkat derajat kita,” katanya.

Ketiga, menjaga kesucian hati. Sikap tersebut penting untuk dimiliki seorang pelayan masyarakat, terutama ketika menghadapi kritik, penolakan, maupun respons negatif dari masyarakat. Menurutnya, berbagai respons tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk menurunkan kualitas pelayanan.

“Apapun respons negatif yang kita dapatkan, tetap kita jalankan dan tingkatkan pelayanan kepada masyarakat. Jangan sampai perlakuan yang kurang baik kepada kita kemudian membuat kita berhenti berbuat baik,” pesannya.

Menutup penyampaiannya, Wakil Wali Kota mengingatkan bahwa jabatan merupakan amanah yang sementara, sehingga harus dimanfaatkan untuk berbuat baik dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Pesan tersebut disampaikan melalui pantun: “Pergi Ke Sawah Menanam Padi, Pulang Membawa Hasil Panenan, Bila Kelak Semua Jabatan Pergi, Hanya Amal Soleh Teman Perjalanan”, pungkasnya.

Acara dilanjutkan dengan uraian hikmah Maulid yang disampaikan oleh TGH. Khoirul Umam, Pimpinan Pondok Pesantren Darul Aman, Tegal Selagalas. Dalam hikmahnya, ia mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan peringatan Maulid sebagai momentum memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW dan meneladani akhlak serta sunnah beliau dalam kehidupan sehari-hari. Keteladanan tersebut diharapkan menjadi jalan untuk memperkuat pengabdian, memperoleh keridaan Allah SWT, dan meraih kehidupan yang penuh keberkahan hingga husnul khatimah.

Share your love

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter