Book Appointment Now

Gerak Cepat untuk Dunia Pendidikan: Saat Pemerintah Kota Mataram Menjaga Nyala Belajar di MTs Badrussalam NW

Gerak Cepat untuk Dunia Pendidikan: Saat Pemerintah Kota Mataram Menjaga Nyala Belajar di MTs Badrussalam NW
Mataram – Di sebuah sudut Kecamatan Sekarbela, pagi itu suasana Madrasah Tsanawiyah Badrussalam Nahdlatul Wathan terasa berbeda. Bangunan yang selama puluhan tahun menjadi tempat anak-anak menimba ilmu mendadak kehilangan sebagian tubuhnya. Dua ruang kelas yang berdiri sejak tahun 1984 roboh, menyisakan kekhawatiran, sekaligus pertanyaan tentang keberlangsungan proses belajar para siswa.

Namun, di tengah reruntuhan itu, hadir sebuah pesan yang menenangkan: pendidikan tidak boleh berhenti.
Pemerintah Kota Mataram bergerak cepat. Tidak menunggu waktu terlalu lama, tidak membiarkan kecemasan berlarut. Bagi pemerintah daerah, ruang kelas bukan sekadar bangunan fisik, melainkan tempat lahirnya harapan, tempat cita-cita ditanamkan, dan masa depan dipersiapkan.

Selasa, 23 Juni 2026, menjadi penanda hadirnya kepedulian itu. Wali Kota Mataram, H. Mohan Roliskana, didampingi Wakil Wali Kota TGH. Mujiburrahman serta Sekretaris Daerah H. L. Alwan Basri, datang langsung menyerahkan bantuan senilai Rp50 juta untuk membantu perbaikan ruang kelas MTs Badrussalam NW Sekarbela. Bantuan tersebut diterima oleh Ketua NWDI Kota Mataram, H. Maad Umar.
Langkah cepat ini bukan semata-mata soal bantuan material. Ia adalah simbol bahwa pemerintah hadir ketika masyarakat membutuhkan. Bahwa musibah yang menimpa lembaga pendidikan adalah persoalan bersama yang harus ditangani secara gotong royong.

“Alhamdulillah, hari ini kita bisa menyerahkan bantuan sebagai bentuk perhatian dan kepedulian Pemerintah Kota Mataram. Mudah-mudahan bantuan ini dapat membantu proses perbaikan sehingga kegiatan belajar mengajar dapat kembali berjalan dengan baik,” ujar Wali Kota.
Momentum ini menjadi semakin penting karena tahun ajaran baru 2026/2027 tengah di depan mata. Masa penerimaan peserta didik baru sedang berlangsung, dan kondisi bangunan yang rusak dikhawatirkan dapat mengganggu aktivitas belajar maupun minat masyarakat untuk menyekolahkan anak-anak mereka.
Karena itu, Pemerintah Kota Mataram memilih untuk bertindak cepat. Anak-anak tidak boleh kehilangan ruang belajar. Guru tidak boleh kehilangan tempat mengabdi. Pendidikan harus tetap berjalan, meskipun bangunan mengalami ujian.

Di sisi lain, pemerintah juga mengambil langkah yang lebih terukur. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Mataram melakukan asesmen terhadap kondisi bangunan untuk mengetahui tingkat kerusakan dan menentukan bentuk penanganan yang tepat. Dinas Sosial pun disiapkan untuk memberikan dukungan sesuai kebutuhan di lapangan.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa penanganan tidak dilakukan secara serampangan. Keselamatan dan keberlanjutan menjadi pertimbangan utama. Bahkan, pemerintah mempertimbangkan penggunaan material yang lebih ringan pada bagian tertentu agar bangunan menjadi lebih aman bagi siswa dan tenaga pendidik.
Peristiwa robohnya ruang kelas ini sekaligus menjadi pengingat bahwa banyak bangunan pendidikan yang telah berusia puluhan tahun memerlukan perhatian serius. Wali Kota Mataram pun mengajak seluruh pengelola lembaga pendidikan untuk lebih aktif melakukan pemantauan terhadap kondisi fisik bangunan.

“Yang paling penting ke depan adalah bagaimana kita bersama-sama melakukan pengawasan terhadap kondisi bangunan agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali. Keamanan siswa dan para guru harus menjadi perhatian utama,” pesannya.
Pada akhirnya, kisah di MTs Badrussalam NW bukan sekadar tentang dua ruang kelas yang roboh. Ia adalah cerita tentang kehadiran pemerintah di saat masyarakat membutuhkan. Tentang kepedulian yang diwujudkan melalui tindakan nyata. Dan tentang keyakinan bahwa pendidikan adalah fondasi yang harus dijaga bersama.
Di tengah puing-puing bangunan yang runtuh, Pemerintah Kota Mataram memilih menyalakan harapan. Sebab selama masih ada ruang untuk belajar, selama masih ada anak-anak yang bercita-cita, maka pendidikan harus tetap berdiri—lebih kuat, lebih aman, dan lebih bermakna.**(TK-DISKOMINFO)
Gerak Cepat untuk Dunia Pendidikan: Saat Pemerintah Kota Mataram Menjaga Nyala Belajar di MTs Badrussalam NW
Mataram – Di sebuah sudut Kecamatan Sekarbela, pagi itu suasana Madrasah Tsanawiyah Badrussalam Nahdlatul Wathan terasa berbeda. Bangunan yang selama puluhan tahun menjadi tempat anak-anak menimba ilmu mendadak kehilangan sebagian tubuhnya. Dua ruang kelas yang berdiri sejak tahun 1984 roboh, menyisakan kekhawatiran, sekaligus pertanyaan tentang keberlangsungan proses belajar para siswa.

Namun, di tengah reruntuhan itu, hadir sebuah pesan yang menenangkan: pendidikan tidak boleh berhenti.
Pemerintah Kota Mataram bergerak cepat. Tidak menunggu waktu terlalu lama, tidak membiarkan kecemasan berlarut. Bagi pemerintah daerah, ruang kelas bukan sekadar bangunan fisik, melainkan tempat lahirnya harapan, tempat cita-cita ditanamkan, dan masa depan dipersiapkan.

Selasa, 23 Juni 2026, menjadi penanda hadirnya kepedulian itu. Wali Kota Mataram, H. Mohan Roliskana, didampingi Wakil Wali Kota TGH. Mujiburrahman serta Sekretaris Daerah H. L. Alwan Basri, datang langsung menyerahkan bantuan senilai Rp50 juta untuk membantu perbaikan ruang kelas MTs Badrussalam NW Sekarbela. Bantuan tersebut diterima oleh Ketua NWDI Kota Mataram, H. Maad Umar.
Langkah cepat ini bukan semata-mata soal bantuan material. Ia adalah simbol bahwa pemerintah hadir ketika masyarakat membutuhkan. Bahwa musibah yang menimpa lembaga pendidikan adalah persoalan bersama yang harus ditangani secara gotong royong.

“Alhamdulillah, hari ini kita bisa menyerahkan bantuan sebagai bentuk perhatian dan kepedulian Pemerintah Kota Mataram. Mudah-mudahan bantuan ini dapat membantu proses perbaikan sehingga kegiatan belajar mengajar dapat kembali berjalan dengan baik,” ujar Wali Kota.
Momentum ini menjadi semakin penting karena tahun ajaran baru 2026/2027 tengah di depan mata. Masa penerimaan peserta didik baru sedang berlangsung, dan kondisi bangunan yang rusak dikhawatirkan dapat mengganggu aktivitas belajar maupun minat masyarakat untuk menyekolahkan anak-anak mereka.
Karena itu, Pemerintah Kota Mataram memilih untuk bertindak cepat. Anak-anak tidak boleh kehilangan ruang belajar. Guru tidak boleh kehilangan tempat mengabdi. Pendidikan harus tetap berjalan, meskipun bangunan mengalami ujian.

Di sisi lain, pemerintah juga mengambil langkah yang lebih terukur. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Mataram melakukan asesmen terhadap kondisi bangunan untuk mengetahui tingkat kerusakan dan menentukan bentuk penanganan yang tepat. Dinas Sosial pun disiapkan untuk memberikan dukungan sesuai kebutuhan di lapangan.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa penanganan tidak dilakukan secara serampangan. Keselamatan dan keberlanjutan menjadi pertimbangan utama. Bahkan, pemerintah mempertimbangkan penggunaan material yang lebih ringan pada bagian tertentu agar bangunan menjadi lebih aman bagi siswa dan tenaga pendidik.
Peristiwa robohnya ruang kelas ini sekaligus menjadi pengingat bahwa banyak bangunan pendidikan yang telah berusia puluhan tahun memerlukan perhatian serius. Wali Kota Mataram pun mengajak seluruh pengelola lembaga pendidikan untuk lebih aktif melakukan pemantauan terhadap kondisi fisik bangunan.

“Yang paling penting ke depan adalah bagaimana kita bersama-sama melakukan pengawasan terhadap kondisi bangunan agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali. Keamanan siswa dan para guru harus menjadi perhatian utama,” pesannya.
Pada akhirnya, kisah di MTs Badrussalam NW bukan sekadar tentang dua ruang kelas yang roboh. Ia adalah cerita tentang kehadiran pemerintah di saat masyarakat membutuhkan. Tentang kepedulian yang diwujudkan melalui tindakan nyata. Dan tentang keyakinan bahwa pendidikan adalah fondasi yang harus dijaga bersama.
Di tengah puing-puing bangunan yang runtuh, Pemerintah Kota Mataram memilih menyalakan harapan. Sebab selama masih ada ruang untuk belajar, selama masih ada anak-anak yang bercita-cita, maka pendidikan harus tetap berdiri—lebih kuat, lebih aman, dan lebih bermakna.**(TK-DISKOMINFO)



