Book Appointment Now

Haul ke-60 Almaghfurlah TGH Muhammad Rais Jadi Pengingat Pentingnya Menjaga Ilmu dan Keteladanan Ulama

Haul ke-60 Almaghfurlah TGH Muhammad Rais Jadi Pengingat Pentingnya Menjaga Ilmu dan Keteladanan Ulama
Mataram — Wakil Wali Kota Mataram, TGH Mujiburrahman mengajak masyarakat menjadikan haul para tuan guru bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi sebagai pengingat pentingnya mencintai ilmu, memuliakan ulama, dan menyiapkan generasi penerus dakwah. Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri Haul ke-60 Almaghfurlah TGH Muhammad Rais serta doa bersama untuk para tuan guru di Sekarbela yang telah meninggal dunia. Berlangsung di Masjid Al-Raisiyah Sekarbela, pada Sabtu (28/03/2026).

Dalam sambutannya, Wakil Wali Kota juga mengingatkan pesan Rasulullah SAW tentang tanda diangkatnya ilmu, yakni dengan diwafatkannya para ulama. Menurutnya, hal tersebut harus menjadi perhatian serius bersama, khususnya dalam menjaga keberlangsungan ilmu agama di tengah masyarakat.

“Sebagaimana yang sering disampaikan dalam kegiatan haul, tentang hadis Nabi Muhammad SAW bahwa tanda Allah mengangkat dan mencabut ilmu, dalam hal ini ilmu agama, adalah dengan mewafatkan para ulama. Tanda diangkatnya dan dicabutnya ilmu adalah dengan wafatnya para ulama,” jelasnya.

Wakil Wali Kota menegaskan, wafatnya para tuan guru dan ulama tidak boleh hanya disikapi dengan rasa kehilangan, tetapi juga harus dijawab dengan semangat untuk terus belajar, menuntut ilmu, serta mencintai ilmu agama.
Dalam kesempatan itu, TGH Mujiburrahman juga mengutip hadis Rasulullah SAW, yang berisi tuntunan agar setiap Muslim senantiasa dekat dengan ilmu.

“Nabi kita, Muhammad SAW juga memberikan solusi, bahwa jadilah engkau orang yang berilmu, atau jadilah engkau orang yang menuntut ilmu, atau jadilah engkau orang yang mendengarkan ilmu disampaikan, atau jadilah engkau seorang yang mencintai ilmu. Jangan menjadi orang yang kelima, yaitu orang yang meremehkan ilmu dan tidak mencintai orang-orang yang berilmu, karena itu akan membawa celaka dan hidup yang tidak mendapatkan keberkahan,” ungkapnya.

Menurutnya, semangat masyarakat untuk tetap dekat dengan ilmu agama menjadi jawaban atas kekhawatiran akan hilangnya ilmu seiring wafatnya para ulama.

“Apabila wafatnya para ulama, para tuan guru kita, disikapi dengan semangat yang membara untuk tetap menjadi orang yang berilmu, orang yang menuntut ilmu, orang yang mendengarkan ilmu, atau orang yang mencintai ilmu, maka permasalahan terangkatnya ilmu karena meninggalnya para ulama otomatis menjadi terjawab,” ujarnya.

TGH Mujiburrahman mengajak seluruh masyarakat untuk memberi perhatian lebih terhadap pendidikan agama, agar para tuan guru yang telah wafat tetap memiliki penerus yang akan melanjutkan perjuangan dakwah dan pendidikan umat.

“Oleh karena itu, marilah kita gerakkan seluruh keluarga kita dan warga masyarakat kita untuk memberikan perhatian terhadap ilmu-ilmu agama, agar wafatnya para tuan guru dan ulama kita senantiasa memiliki generasi yang akan melanjutkan, patah tumbuh, hilang berganti, mati satu tumbuh seribu” pungkasnya.



