Book Appointment Now

Strategi Promotif-Preventif Jadi Senjata Utama Hadapi Ancaman Kesehatan Nasional
Strategi Promotif-Preventif Jadi Senjata Utama Hadapi Ancaman Kesehatan Nasional
Lombok, 28 Mei 2025 – Wakil Wali Kota Mataram, TGH Mujiburrahman, menghadiri Rapat Koordinasi (Rakor) Kesehatan Provinsi NTB Tahun 2025 yang digelar di Hotel Swiss-Belcourt, Rabu (28/05/2025). Kegiatan ini mengangkat tema “Transformasi Sistem Kesehatan untuk NTB Sehat” dan dihadiri langsung oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, serta Gubernur NTB, L. Muhamad Iqbal, bersama para bupati dan wali kota se-Provinsi NTB.

Dalam arahannya, Menkes Budi Gunadi Sadikin menekankan bahwa tugas utama pemerintah dalam sektor kesehatan bukan sekadar mengobati orang sakit, tetapi memastikan masyarakat tetap sehat melalui upaya pencegahan yang sistematis. “Masih banyak yang keliru memahami tugas kita. Fokus utama pemerintah bukan hanya menyembuhkan, tapi menjaga agar rakyat tidak jatuh sakit. Itulah strategi utama kita,” tegas Budi.

Ia mencontohkan pengalaman saat pandemi COVID-19, di mana tindakan preventif sederhana seperti menggunakan masker terbukti lebih murah dan efektif daripada biaya pengobatan. “Kalau sebulan beli masker Rp100 ribu, lalu sakit biayanya bisa sejuta. Lebih murah yang mana?” ujarnya disambut senyum peserta rakor.

Lebih lanjut, Menkes menyampaikan bahwa transformasi sistem kesehatan nasional harus bertumpu pada dua strategi utama: promotif dan preventif. Strategi promotif, menurutnya, mencakup edukasi gaya hidup sehat seperti pola makan bergizi, olahraga rutin, istirahat cukup, serta menjauhi rokok dan alkohol.

“Edukasi publik harus digencarkan, termasuk pentingnya olahraga minimal 30 menit per hari, lima hari dalam seminggu. Perubahan perilaku adalah kunci,” imbuhnya.

Sementara itu, strategi preventif mencakup pemeriksaan kesehatan secara berkala, seperti pengecekan tekanan darah, kadar gula, kolesterol, hingga fungsi ginjal. Ia menyoroti empat penyebab kematian tertinggi di Indonesia—stroke, penyakitjantung, kanker, dan gagal ginjal—yang sebagian besar dapat dicegah jika deteksi dini dilakukan secara konsisten.

“Jika empat penyakit ini bisa dikendalikan, maka angka kematian di usia produktif bisa ditekan hingga 60 persen,” tegasnya.
Dalam konteks nasional, Budi juga menyoroti pentingnya kesehatan masyarakat dalam menyongsong Indonesia Emas 2045. Menurutnya, Indonesia kini memasuki fase bonus demografi menuju 2030, di mana penduduk usia produktif lebih besar dibanding usia non-produktif.

“Jika kita gagal menjaga kesehatan generasi produktif ini, kita akan kehilangan kesempatan besar dan tetap terjebak sebagai negara berpendapatan menengah,” tandasnya.
Di tempat yang sama, Gubernur NTB, L. Muhamad Iqbal, menyatakan komitmennya mendukung transformasi sistem kesehatan yang lebih menekankan aspek promotif dan preventif. Menurutnya, kehadiran Menkes menjadi motivasi kuat bagi NTB untuk menjadi bagian dari perubahan tersebut.

“Kami siap menjadi bagian dari transformasi ini. Kita harus beralih dari sistem kesehatan yang hanya menunggu orang sakit, menuju sistem yang mencegah penyakit sejak dini,” ucap Gubernur.

Ia juga menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat sistem kesehatan berkelanjutan di NTB. Termasuk, komitmen untuk terus mengembangkan institusi pendidikan tenaga kesehatan, baik negeri maupun swasta.

“Dengan pendidikan tenaga kesehatan yang kuat, anak-anak NTB bisa bersaing di dunia internasional. Kita ingin mereka berkiprah tidak hanya secara lokal, tapi juga global,” pungkasnya. (TK-Diskominfo)



